Tak lama lagi aku memasuki usia 47 tahun. Kok rasanya tiba-tiba sudah 40an ya, hehe… jiwa rasanya masih 20an padahal.
Tidak pernah menduga kalau masuk di usia kepala empat ini akan diiringi dengan banyak hal yang kontemplatif. Banyak yang dipikirkan. Bahkan ada satu titik yang aku merasa belum sampai kemana-mana, belum ada pencapaian yang bisa aku rasakan.
Apalagi jelang usia 47 ini. Makin sering berhitung. Bukan menghitung kekayaan atau apa. Namun menghitung-hitung pencapaian hidup. Lebih gelisah lagi kalau melihat teman-teman seusia, atau bahkan yang lebih muda, namun sudah nampak tenang, sudah njalur, istilah jawanya, sudah menemukan jalan. Aku kenapa?
Rasanya ada target-target yang belum terkejar, pekerjaan yang belum tuntas, dan impian-impian yang belum tercapai.
Apakah Hidupku Benar-benar Belum Menghasilkan Banyak Hal, atau aku Sedang Melihatnya dengan Ukuran yang Kurang Tepat?
Nyatanya,
Kalau aku menoleh ke belakang, aku melihat rute yang sangat panjang yang sudah kulewati. Aku tumbuh dari gadis ndeso yang lugu, cenderung kaku, tanpa arah yang jelas di masa depan, tanpa impian, tanpa ambisi apapun. Gadis sederhana yang hanya ingin kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Tumbuh menjadi perempuan dewasa, yang dikelilingi orang-orang yang dicintai dan mencintai, yang dengan sepenuh hati diperjuangkan.
Aku juga berubah menjadi sosok yang lebih luwes, dan adaptif. Menjadi seseorang yang berpandangan lebih positif.. Ini tak lepas dari kesempatan yang aku miliki untuk terus belajar dan bertemu, berjejaring dengan kalangan yang lebih luas dan lebih kompleks.
Terimakasihku untuk pasangan hidup yang terus mendorong aku melangkah lebih maju.
Kehidupan yang lebih baik, lebih berkecukupan dibandingkan dulu yang bahkan pernah tidak bisa makan seharian karena uangnya habis, pernah pula mangkir kuliah karena tidak mampu bayar SPP semesterannya. Berbagai pengalaman, tanggung jawab, dan kesulitan-kesulitan yang sudah berhasil dilalui dan sudah ditinggal jauh di belakang.
Mungkin, ada banyak pencapaian yang tidak pernah masuk dalam daftar keberhasilanku, hanya karena aku selama ini tidak menganggapnya sebagai pencapaian.
Kita Sering Keliru Menentukan Ukuran Keberhasilan
Ada 3 poin penting untuk menentukan ukuran keberhasilan menurutku, yaitu :
Pencapaian
Ini ditandai dengan pertanyaan : Apa saja yang sudah berhasil aku kumiliki atau kuraih?
Pertumbuhan
Pertanyaannya di poin ini adalah, sudah sejauh mana aku berubah menjadi lebih baik.
Kebermanfaatan
Tanyakan, kebaikan apa saja yang telah hadir melalui kehidupanku.
Ketiga poin diatas sangat penting. Sayangnya, kebanyakan orang lebih melihat poin 1 karena memang pencapaian ini yang paling mudah dilihat atau terlihat dan lebih mudah diperbandingkan.
Padahal, bisa jadi seseorang belum mencapai seluruh impiannya, namun telah tumbuh jauh melampaui dirinya yang dulu, seperti aku.
Kompetisi yang sesungguhnya, dan yang lebih berarti bukanlah dengan orang lain. Tapi dengan diri sendiri. Bagaimana aku dulu, bagaimana aku sekarang. Inilah kompetisi yang sehat dan menumbuhkan. Bukan kompetisi yang meremukkan mental.
Menghitung Nikmat, Bukan Hanya Kekurangan.
Di surat Al Ahqaf ayat 15, Allah berfirman,
“...Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”
Panduan suci dari Sang Pencipta Kehidupan untuk manusia yang masuk usia 40 tahun ada tiga hal, yaitu : minta petunjuk agar dapat mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan pada diri sendiri dan orangtua, agar bisa beramal saleh yang Allah ridha, dan doa agar Allah berikan kesalehan untuk diri sendiri dan untuk anak keturunan.
Poin pertama ini menarik. Mengapa kita diminta untuk minta petunjuk agar dapat mensyukuri nikmat. Nampol banget nggak sih. Allah tahu di usia-usia ini manusia sudah mulai sibuk membuat perbandingan-perbandingan, hitung-hitungan, seperti pikiranku dulu itu. Jadi petunjuknya adalah, agar konsentrasi dengan hal-hal yang sudah Allah berikan, untuk menumbuhkan syukur. Pas banget.
Selain itu fokus saja sudah, dengan amal-amal baik yang Allah ridha. Dibanding sibuk mengejar eksistensi diri, fokuslah pada kontribusi-kontribusi yang bisa diberikan pada orang lain. Bagaimana menjadi sebaik-baik manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Dan tidak lupa tetap menjaga kesalehan, dan memastikan kesalehan itu terus terjaga sampai anak cucu.
Belum Selesai Bukan Berarti Belum Berhasil
Bisa jadi memang hari ini, di usia ini ada beberapa cita-cita dan impian yang belum tercapai. Namun tidak boleh menganggap perjalanan hidup puluhan tahun yang sudah dilewati sebagai perjalanan yang kosong.
Aku mendapat pelajaran bahwa menghargai perjalanan bukan berarti berhenti memperjuangkan masa depan. Aku memang belum belum mencapai semua yang kuinginkan. Tetapi jika menoleh ke belakang, tidak adil kalau aku mengatakan belum mencapai apa-apa.
Terlalu banyak nikmat yang ku abaikan jika hanya menghitung apa yang belum dicapai.
Bersambung bag 2.



Posting Komentar
Posting Komentar